Akankah “MoU Helsinki” Akan Bernasib Seperti “Ikrar Lamteh” ?

gaespost.com | ACEH TIMUR (Minggu 15/8/2021).

Penulis : IRWANDA

Hari ini Tanggal 15 Agustus 2021, Bertepatan dengan 16 Tahun hari perdamaian Aceh yaitu pada tanggal 15 Agustus 2005 silam.

Saat ini saya sedang duduk sambil menyeruput secangkir kopi bersama dengan seorang teman saya Khairuddin alias Doglen.

Doglen selain beliau pernah bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) walau hanya hitungan bulan karena setelah itu Aceh berdamai dengan RI, beliau juga merupakan anak seorang Almarhum pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Sagoe Sungoe Raja. Almarhum orang Tua beliau merupakan salah satu GAM yang paling dicari masa itu,

karena beliau sosok ataupun tokoh yang memiliki jabatan strategis dalam perjuangan. Beliau memegang peran besar di Sagoe Sungoe Raja, Almarhum memegang jabatan sebagai keuangan di Sagoe Sungoe Raja.


Singkat Cerita, disela sela pembahasan terkait berbagai macam isu kekiniaan yang sedang terjadi di Aceh maupun isu Nasional.

Saudara Doglen bertanya beberapa pertanyaan yang menghentakkan hati dan membuat lidah saya kaku untuk menjawabnya.

Beliau (Doglen-red) bertanya kepada saya, 

“Pak Irwanda, apa sebenarnya tujuan perdamaian Aceh dan RI ?, apakah hanya sekedar untuk merebut kursi Gubernur, Bupati, DPR atau apa ???, jika butir butir dalam MoU Helsinki menguntungkan Aceh dan mampu membuat Aceh seperti Negara negara Federal atau mampu membuat Aceh menjadi bangsa yang berdaulat, lantas apa ?? dan mana ?? Implementasi butir butir MoU Helsinki yang sudah 16 Tahun berjalan yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Aceh ke permukaan Dunia, justru saya melihat Aceh dengan dana Otsus yang melimpah yang dikucurkan oleh Pemerintah Pusat, tetap saja Aceh tak mampu mengangkat derajat masyarakat Aceh, Sehingga Aceh sampai saat ini masih menduduki peringkat dengan prestasi Provinsi termiskin Se – Sumatera, konon lagi pada tahun 2028 dana Otsus tidak akan diberikan lagi untuk Aceh sesuai dengan yang tertuang dalam turunan MoU Helsinki.

Hari ini jumlah fantastis yang diberikan, yaitu 2 % dari jumlah DAU Nasional dan di tahun 2028 akan habis dan tidak akan diberikan lagi, coba anda banyangkan pak Irwanda (Dengan muka sedih), belum lagi kami anak anak Syuhada korban konflik yang sampai saat ini belum bisa menikmati hasil perjuangan orang tua kami yang Syahid di medan tempur saat memperjuangkan kemerdekaan Aceh ini. setingkat kami korban Konflik yang semestinya mendapatkan perhatian khusus,ternyata nihil,, konon lagi masyarakat yang lain,” ungkap bang Doglen kepada Saya.


“Apakah Nasib “MoU Helsingki” akan sama seperti “Ikrar Lamteh” pada masanya ???,” tanyanya,


“Tolong Jawab pak Irwanda”, pintanya.

Foto ; saat perdamaian RI & GAM tahun 2005 lalu


Saya hanya bisa tertegun mendengar curhat anak seorang pejuang Aceh yang Syahid dalam perjuangan GAM yang seharusnya mendapat perhatian khusus dari pihak yang bertanggung jawab.


Dalam memperingati hari perdamaian RI dan GAM, Kami dari Masyarakat Aceh meminta kepada pihak yang berwenang untuk menuntaskan butir butir MoU Helsinki sebagai mana mestinya. Kita masih banyak butir butir MoU Helsinki yang belum terealisasi, termaksud dalam qanun nomor 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh yang sampai saat ini masih COLLING DOWN, Padahal Bendera salah satu harapan setiap masyarakat Aceh, agar Aceh mempunyai jati diri seperti sedia kala.


Harapan kami masyarakat Aceh agar pihak yang berwenang bisa lebih serius dalam menuntaskan butir butir MoU Helsinki, agar Aceh benar benar berdaulat di mata dunia “Aceh tusoe droe dan Aceh Dong keudroe”.


Kita berharap jangan sampai MoU Helsinki habeh lagei habe eh (Habis seperti es batu) sama seperti “Ikrar Lamteh”.


Sekian terima kasih, curhatan hati seorang Aneuk Syuhada.

Sumber :Fb Irwanda Hamzah ii

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *