Rental Mobil Medan

Tidak Akan Lahir Pemimpin Pintar Ditengah Manusia Tertinggal

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar
Tulisan ini ingin mengupas beberapa hal terkait kondisi sosial kemasyarakatan. Dimana pengalaman memimpin, pengalaman berada dibarisan depan bermasyarakat dan pengetahuan politik dan sosial adalah referensi utama dari dalam membuat batasan-batasan dalam tulisan ini.
Pertama, saya ingin menjelaskan tentang pemimpin dalam konstektual pemerintahan dan kehidupan sosial dalam bermasyarakat.
Pemimpin dalam konteks demokrasi penting dibahas karena negara Indonesia pasca Reformasi menganut sistem demokrasi. Karena itu sistem negara menentukan bagaimana seorang pemimpin dilahirkan.
Pada masa dulu pemimpin dilahirkan dianggap dalam keyakinan bahwa seseorang yang dilahirkan oleh orang tertentu misalnya raja. Maka anak yang dilahirkan oleh permaisuri dianggap sebagai pemimpin selanjutnya, meskipun dia tidak memahami kepemimpinan itu sendiri.
Lalu kalau kita bicara dunia demokrasi maka rahim pemimpin justru berbeda dengan hakikat rahim pemimpin dimasa lalu dimana kepemimpinan masih menganut sistem otoritarian yang mengedepankan keberadaan orangnya.
Pemimpin sekarang rahimnya boleh dipersepsikan dominasi cara berpikir dan prilaku mereka yang memilihnya atau dengan kata lain ditentukan oleh pikiran masyarakat pemilih secara rata-rata.
Jadi secara teori pemimpin disalah satu komunitas, wilayah, daerah bahkan negara adalah representatif orang kebanyakan. Kalau pemimpinnya tergambar sebagai penipu maka rakyat juga secara rata-rata adalah penipu. Tetapi mereka ada yang terlihat dan ada yang tersembunyi tetapi yang perlu diingat adalah bahwa secara mentalitas mereka adalah penipu sebagaimana pemimpinnya.
Lalu dalam dunia demokrasi dikenal dengan hukum demokrasi kausalistik yang menegaskan bahwa ditengah masyarakat pintar akan melahirkan pemimpin pintar sementara ditengah masyarakat bodoh secara otomatis akan melahirkan pemimpin bodoh juga. Hal ini disamping telah menjadi teori tetapi pembuktian yang dilakukan oleh masyarakat di negara-negara terlebih dahulu maju dan mereka sudah merdeka ratusan tahun silam.
Kenapa demikian, orang yang memahami tidak akan melawan kondisi sosialnya dengan pemaksaan kehendak dan bahkan mereka cenderung diam disebabkan suaranya rawan dalam pertaruhan karena kuatir mendapat penolakan dari sebahagian besar orang yang tidak cukup pengetahuannya dan didukung oleh orang-orang yang memiliki kesamaan cara pikir dengannya.
Karena itulah lahir kecenderungan sosial mengapa masyarakat tertinggal akan terus berada dalam lingkaran setan, mereka tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut. Maka dalam kepercayaan terhadap Tuhan dikenal terminology bahwa suatu bangsa yang ingin mengubah nasibnya mereka harus bekerja keras melakukannya dan hanya mereka sendiri yang bisa melakukannya.
Apakah anda mengetahui bahwa keberadaan Singapura sekarang ini jauh lebih maju dari persekutuan Melayu lainnya sebagaimana Malaysia, Thailand bahkan Filiphina? Itu semua karena mereka berubah cara berpikir oleh seorang Lee Kwan Yeu, yang memimpin dengan aturan yang ketat dan dia memiliki konsep perubahan terhadap manusia yang sangat ketat. Nah, hingga sekarang peningkatan kemajuan ini berhasil mereka pertahankan karena kehidupan disiplin dan setiap orang sejak dilahirkan telah  direncanakan hingga memasuki dunia bekerja.
Sementara bangsa Melayu lain masih berada pada tataran hidup sebagai warga negara berkembang, sementara Singapore telah menjadi Amerikanya Asia, karena hubungan, budaya dan hidup mereka dalam contoh dan standar Amerika.
Yang kedua, melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan bagaimana sesungguhnya masyarakat tertinggal, tertutup dan bisa digolongkan orang bodoh.
Mereka secara rata-rata merasa mengetahui segala sesuatu melebihi siapapun didunia, mereka merasa lebih tinggi, lebih hebat dari bangsa lainnya, sehingga karakternya menjadi congkak, sombong dan angkuh tidak bisa melihat orang lain, atau kelompok lain dipuji atau dihargai orang lain.
Mereka hanya bisa menjustis orang lain, menilai orang lain hanya dalam perspektif baik dan buruk dari kacamata mereka dan sesuai dengan batasan pemikirannya yang subyektif dan tidak memiliki indikator yang cukup. Tetapi karena pikirannya terbatas memaksakan pikiran itu kepada orang lain dan bagi masyarakat yang tidak berpikir akan mempersepsikan sebagai logika yang tepat.
Misalnya menuduh orang lain pembohong, menuduh orang lain sebagaimana otaknya berpikir, menuduh orang lain tidak bertanggung jawab, padahal kedudukan mereka sendiri tidak pernah mereka memahaminya. Lalu kenapa mereka di dengar dan dihargai oleh masyarakat, tentu karena ada jabatan yang berfungsi memberi dukungan Bahkan bantuan sporadis kepada masyarakat. Orang-orang tertinggal hanya berpikir pembangunan itu sebatas bantuan kepadanya dan pergaulannya dengan pemegang jabatan pemerintah.
Lalu mereka menjadikan itu sebagai alat untuk mereka mendapat penghargaan dari rakyat karena posisinya yang diyakini rakyat sebagai kaki tangan kekuasaan atau negara. Padahal siklus yang terilustrasi dimata sosial ini telah menjadi metode baku yang menyebabkan masyarakat tertinggal dan terpuruk dalam berpikir dan meraih kebebasannya dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.
Kecenderungan sosial seperti ini terjadi berbagai negara bukan hanya di daerah di negara kita, maka anda menemukan diberbagai negara ada masyarakat yang hidup dengan tradisi dan budaya serta kepercayaan yang mereka sendiri meyakininya melebihi apapun sehingga budaya dan kebiasaannya menjadi suci tidak bisa disentuh. Lihatlah bagaimana aborigin hidup di hutan Australia, Apache yang tidak bisa menerima kepintaran bangsa Eropa, suku Asmad, Toraja dan Suku lainnya di Indonesia yang tetap memelihara tradisi dan budaya serta kepercayaan yang tertutup. Begitulah model siklus sosial yang membuat suku bangsa terpuruk dan harus meninggalkan kota menuju ke gunung agar mendapat kehidupan masa lalu yang mereka yakin sebagai suatu kesucian sebagaimana kehidupan ala nenek moyangnya.
Lalu bagaimana anda melihat sistem kepemimpinan sosial di Aceh? Polanya hampir sama, untung saja anak-anak usia dini memiliki gadget yang membawa mereka belajar dengan sistem kehidupan digital. Meski mereka bermain game namun cara kerja sistem keuangan juga memudahkan mereka menguasai sistem kerja dunia baru yang merupakan tahapan perubahan teknology.
Timbul pertanyaan, apakah anda yang lebih tua dan memahami dunia politik lebih cerdas dari anak-anak yang menjadikan gadget sebagai alat kerjanya, jawabannya adalah tidak, karena orang-orang yang berpikir tentang sistem kekuasaan politik kini adalah calon-calon manusia tertinggal. Mereka larut dalam sistem kekuasaan yang mereka menganggap dirinya sebagai orang kelas atas. Padahal sistem kekuasaan sekarang adalah sistem kekuasaan yang feodalistik (menjajah) meski konstitusi negara sudah demokratis pasca reformasi.
Sistem kekuasaan ini yang sedang ditentang dunia, dalam politik, sosial, negara dan sistem keuangan. Kehadiran uang Crypto adalah usaha membebaskan kehidupan manusia di berbagai negara dari sistem keuangan yang kapitalistik.
Sementara ditengah masyarakat kita mendengar bitcoin, mendengar saham, Blokchain masih dianggap sebagai penipuan, padahal setengah masyarakat dunia saat ini melakukan aktivitas membangun pendapatannya dengan terminology yang asing bagi masyarakat kita. Lalu apa yang ada dalam pikiran kita?
Tidak lain adalah bantuan pemerintah, bantuan dari dermawan, bantuan dari negara asing, bantuan dari lembaga internasional. Pertanyaannya, apakah kita tergolong masyarakat dan pemerintah yang maju?
Bagian ketiga, adalah memilih pemimpin. Lihatlah pada masyarakat tertinggal mereka menggunakan orientasi dalam memilih pemimpin dalam hukum mencari tuan yang adil. Tahapan prioritas sesungguhnya adalah begaimana mereka mengantarkan saudara, sanak famili dan rekannya sebagai pemilik kekuasaan. Mereka tidak pernah berpikir tingkat kemampuan dan kecerdasan orang yang diperjuangkannya. Inilah tahapan demokrasi yang masih lugu dinegara kita, karena masyarakat sebahagian besar jauh dari kepahaman tentang substansi dalam memilih pemimpin.
Mereka akan tenggelam dalam kubang tradisi yang sudah outshore sebagaimana jaman batu. Mereka hanya bisa melihat pemimpin dari kacamata kuda, bahwa mereka kuat otot, mereka orang kuat, mereka di dampingi dan dikawal orang, mereka memiliki kekayaan, mereka punya rumah besar dan lain-lain dalam pandangan sistem penjajah dimasa lalu. Pemimpin itu tidak ubahnya sebagaimana tuan Demang atau tengkulak yang bisa membeli dan membiayai pekerja meski sedang tidak produktif sebagaimana toke bangku dalam kehidupan nelayan.
Karena cara pandang inilah, maka pada akhirnya masyarakat mendapatkan kekecewaan, tidak pernah ada pemimpin yang memuaskan sebagaimana mereka harapkan. Apalagi pada kelompok masyarakat yang berpikir dalam batasan kemampuan pemimpin adalah bagaimana dia bisa  membawa bantuan negara kepada mereka.
Inilah beberapa sumber yang telah menyebabkan sistem politik kita salah kaprah. Partai politik dipandang hanya karena ramai barisannya, partai politik hanya dipandang karena kekompakan dengan seragamnya. Sementara manajemen kebebasan berpikir, kemerdekaan hidup, kebebasan bicara dan mengemukakan pendapat menjadi sesuatu yang langka dalam partai politik. Karena dianggap melanggar, melawan pimpinan, padahal pemimpin di dalam dunia demokrasi lebih berperan sebagai koordinasi.
Namun partai politik kita masih menggunakan istilah anak buah dan membanggakan yel yel siap sebagaimana perintah dalam manajemen serdadu (tentara) yang bertolak belakang dengan partai politik yang merupakan alat politik sipil.
Maka lihatlah ketika ada acara partai politik dinegara maju sebagaimana di Amerika Serikat sebagai tempat belajar demokrasi warga dunia dimana negara tersebut merdeka sudah ratusan tahun, mereka tidak pernah memisahkan pengurus partai dengan rakyat, apalagi dengan seragam. Karena yang menjadi substansi adalah ide, wawasan dan pemikiran, itulah yang memisahkan mereka lintas partai politik.
Apakah kita menganggap diri kita lebih pintar dari mereka yang hidupnya jauh lebih sejahtera dari dari kehidupan kita? Anda salah menilai, ingatlah bangsa kita dijajah secara politik dengan senjata hampir empat ratus tahun lamanya. Maka segala seluk beluk hidup sebagai masyarakat terjajah kita harus segera mengubahnya, jika tidak maka kita akan selalu berada dalam lingkaran setan penjajahan meskipun yang menjadi gubernur orang tua kita, abang kita atau anak kita sekalipun.

Tidak Akan Lahir Pemimpin Pintar Ditengah Manusia Tertinggal

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar
Tulisan ini ingin mengupas beberapa hal terkait kondisi sosial kemasyarakatan. Dimana pengalaman memimpin, pengalaman berada dibarisan depan bermasyarakat dan pengetahuan politik dan sosial adalah referensi utama dari dalam membuat batasan-batasan dalam tulisan ini.
Pertama, saya ingin menjelaskan tentang pemimpin dalam konstektual pemerintahan dan kehidupan sosial dalam bermasyarakat.
Pemimpin dalam konteks demokrasi penting dibahas karena negara Indonesia pasca Reformasi menganut sistem demokrasi. Karena itu sistem negara menentukan bagaimana seorang pemimpin dilahirkan.
Pada masa dulu pemimpin dilahirkan dianggap dalam keyakinan bahwa seseorang yang dilahirkan oleh orang tertentu misalnya raja. Maka anak yang dilahirkan oleh permaisuri dianggap sebagai pemimpin selanjutnya, meskipun dia tidak memahami kepemimpinan itu sendiri.
Lalu kalau kita bicara dunia demokrasi maka rahim pemimpin justru berbeda dengan hakikat rahim pemimpin dimasa lalu dimana kepemimpinan masih menganut sistem otoritarian yang mengedepankan keberadaan orangnya.
Pemimpin sekarang rahimnya boleh dipersepsikan dominasi cara berpikir dan prilaku mereka yang memilihnya atau dengan kata lain ditentukan oleh pikiran masyarakat pemilih secara rata-rata.
Jadi secara teori pemimpin disalah satu komunitas, wilayah, daerah bahkan negara adalah representatif orang kebanyakan. Kalau pemimpinnya tergambar sebagai penipu maka rakyat juga secara rata-rata adalah penipu. Tetapi mereka ada yang terlihat dan ada yang tersembunyi tetapi yang perlu diingat adalah bahwa secara mentalitas mereka adalah penipu sebagaimana pemimpinnya.
Lalu dalam dunia demokrasi dikenal dengan hukum demokrasi kausalistik yang menegaskan bahwa ditengah masyarakat pintar akan melahirkan pemimpin pintar sementara ditengah masyarakat bodoh secara otomatis akan melahirkan pemimpin bodoh juga. Hal ini disamping telah menjadi teori tetapi pembuktian yang dilakukan oleh masyarakat di negara-negara terlebih dahulu maju dan mereka sudah merdeka ratusan tahun silam.
Kenapa demikian, orang yang memahami tidak akan melawan kondisi sosialnya dengan pemaksaan kehendak dan bahkan mereka cenderung diam disebabkan suaranya rawan dalam pertaruhan karena kuatir mendapat penolakan dari sebahagian besar orang yang tidak cukup pengetahuannya dan didukung oleh orang-orang yang memiliki kesamaan cara pikir dengannya.
Karena itulah lahir kecenderungan sosial mengapa masyarakat tertinggal akan terus berada dalam lingkaran setan, mereka tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut. Maka dalam kepercayaan terhadap Tuhan dikenal terminology bahwa suatu bangsa yang ingin mengubah nasibnya mereka harus bekerja keras melakukannya dan hanya mereka sendiri yang bisa melakukannya.
Apakah anda mengetahui bahwa keberadaan Singapura sekarang ini jauh lebih maju dari persekutuan Melayu lainnya sebagaimana Malaysia, Thailand bahkan Filiphina? Itu semua karena mereka berubah cara berpikir oleh seorang Lee Kwan Yeu, yang memimpin dengan aturan yang ketat dan dia memiliki konsep perubahan terhadap manusia yang sangat ketat. Nah, hingga sekarang peningkatan kemajuan ini berhasil mereka pertahankan karena kehidupan disiplin dan setiap orang sejak dilahirkan telah  direncanakan hingga memasuki dunia bekerja.
Sementara bangsa Melayu lain masih berada pada tataran hidup sebagai warga negara berkembang, sementara Singapore telah menjadi Amerikanya Asia, karena hubungan, budaya dan hidup mereka dalam contoh dan standar Amerika.
Yang kedua, melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan bagaimana sesungguhnya masyarakat tertinggal, tertutup dan bisa digolongkan orang bodoh.
Mereka secara rata-rata merasa mengetahui segala sesuatu melebihi siapapun didunia, mereka merasa lebih tinggi, lebih hebat dari bangsa lainnya, sehingga karakternya menjadi congkak, sombong dan angkuh tidak bisa melihat orang lain, atau kelompok lain dipuji atau dihargai orang lain.
Mereka hanya bisa menjustis orang lain, menilai orang lain hanya dalam perspektif baik dan buruk dari kacamata mereka dan sesuai dengan batasan pemikirannya yang subyektif dan tidak memiliki indikator yang cukup. Tetapi karena pikirannya terbatas memaksakan pikiran itu kepada orang lain dan bagi masyarakat yang tidak berpikir akan mempersepsikan sebagai logika yang tepat.
Misalnya menuduh orang lain pembohong, menuduh orang lain sebagaimana otaknya berpikir, menuduh orang lain tidak bertanggung jawab, padahal kedudukan mereka sendiri tidak pernah mereka memahaminya. Lalu kenapa mereka di dengar dan dihargai oleh masyarakat, tentu karena ada jabatan yang berfungsi memberi dukungan Bahkan bantuan sporadis kepada masyarakat. Orang-orang tertinggal hanya berpikir pembangunan itu sebatas bantuan kepadanya dan pergaulannya dengan pemegang jabatan pemerintah.
Lalu mereka menjadikan itu sebagai alat untuk mereka mendapat penghargaan dari rakyat karena posisinya yang diyakini rakyat sebagai kaki tangan kekuasaan atau negara. Padahal siklus yang terilustrasi dimata sosial ini telah menjadi metode baku yang menyebabkan masyarakat tertinggal dan terpuruk dalam berpikir dan meraih kebebasannya dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.
Kecenderungan sosial seperti ini terjadi berbagai negara bukan hanya di daerah di negara kita, maka anda menemukan diberbagai negara ada masyarakat yang hidup dengan tradisi dan budaya serta kepercayaan yang mereka sendiri meyakininya melebihi apapun sehingga budaya dan kebiasaannya menjadi suci tidak bisa disentuh. Lihatlah bagaimana aborigin hidup di hutan Australia, Apache yang tidak bisa menerima kepintaran bangsa Eropa, suku Asmad, Toraja dan Suku lainnya di Indonesia yang tetap memelihara tradisi dan budaya serta kepercayaan yang tertutup. Begitulah model siklus sosial yang membuat suku bangsa terpuruk dan harus meninggalkan kota menuju ke gunung agar mendapat kehidupan masa lalu yang mereka yakin sebagai suatu kesucian sebagaimana kehidupan ala nenek moyangnya.
Lalu bagaimana anda melihat sistem kepemimpinan sosial di Aceh? Polanya hampir sama, untung saja anak-anak usia dini memiliki gadget yang membawa mereka belajar dengan sistem kehidupan digital. Meski mereka bermain game namun cara kerja sistem keuangan juga memudahkan mereka menguasai sistem kerja dunia baru yang merupakan tahapan perubahan teknology.
Timbul pertanyaan, apakah anda yang lebih tua dan memahami dunia politik lebih cerdas dari anak-anak yang menjadikan gadget sebagai alat kerjanya, jawabannya adalah tidak, karena orang-orang yang berpikir tentang sistem kekuasaan politik kini adalah calon-calon manusia tertinggal. Mereka larut dalam sistem kekuasaan yang mereka menganggap dirinya sebagai orang kelas atas. Padahal sistem kekuasaan sekarang adalah sistem kekuasaan yang feodalistik (menjajah) meski konstitusi negara sudah demokratis pasca reformasi.
Sistem kekuasaan ini yang sedang ditentang dunia, dalam politik, sosial, negara dan sistem keuangan. Kehadiran uang Crypto adalah usaha membebaskan kehidupan manusia di berbagai negara dari sistem keuangan yang kapitalistik.
Sementara ditengah masyarakat kita mendengar bitcoin, mendengar saham, Blokchain masih dianggap sebagai penipuan, padahal setengah masyarakat dunia saat ini melakukan aktivitas membangun pendapatannya dengan terminology yang asing bagi masyarakat kita. Lalu apa yang ada dalam pikiran kita?
Tidak lain adalah bantuan pemerintah, bantuan dari dermawan, bantuan dari negara asing, bantuan dari lembaga internasional. Pertanyaannya, apakah kita tergolong masyarakat dan pemerintah yang maju?
Bagian ketiga, adalah memilih pemimpin. Lihatlah pada masyarakat tertinggal mereka menggunakan orientasi dalam memilih pemimpin dalam hukum mencari tuan yang adil. Tahapan prioritas sesungguhnya adalah begaimana mereka mengantarkan saudara, sanak famili dan rekannya sebagai pemilik kekuasaan. Mereka tidak pernah berpikir tingkat kemampuan dan kecerdasan orang yang diperjuangkannya. Inilah tahapan demokrasi yang masih lugu dinegara kita, karena masyarakat sebahagian besar jauh dari kepahaman tentang substansi dalam memilih pemimpin.
Mereka akan tenggelam dalam kubang tradisi yang sudah outshore sebagaimana jaman batu. Mereka hanya bisa melihat pemimpin dari kacamata kuda, bahwa mereka kuat otot, mereka orang kuat, mereka di dampingi dan dikawal orang, mereka memiliki kekayaan, mereka punya rumah besar dan lain-lain dalam pandangan sistem penjajah dimasa lalu. Pemimpin itu tidak ubahnya sebagaimana tuan Demang atau tengkulak yang bisa membeli dan membiayai pekerja meski sedang tidak produktif sebagaimana toke bangku dalam kehidupan nelayan.
Karena cara pandang inilah, maka pada akhirnya masyarakat mendapatkan kekecewaan, tidak pernah ada pemimpin yang memuaskan sebagaimana mereka harapkan. Apalagi pada kelompok masyarakat yang berpikir dalam batasan kemampuan pemimpin adalah bagaimana dia bisa  membawa bantuan negara kepada mereka.
Inilah beberapa sumber yang telah menyebabkan sistem politik kita salah kaprah. Partai politik dipandang hanya karena ramai barisannya, partai politik hanya dipandang karena kekompakan dengan seragamnya. Sementara manajemen kebebasan berpikir, kemerdekaan hidup, kebebasan bicara dan mengemukakan pendapat menjadi sesuatu yang langka dalam partai politik. Karena dianggap melanggar, melawan pimpinan, padahal pemimpin di dalam dunia demokrasi lebih berperan sebagai koordinasi.
Namun partai politik kita masih menggunakan istilah anak buah dan membanggakan yel yel siap sebagaimana perintah dalam manajemen serdadu (tentara) yang bertolak belakang dengan partai politik yang merupakan alat politik sipil.
Maka lihatlah ketika ada acara partai politik dinegara maju sebagaimana di Amerika Serikat sebagai tempat belajar demokrasi warga dunia dimana negara tersebut merdeka sudah ratusan tahun, mereka tidak pernah memisahkan pengurus partai dengan rakyat, apalagi dengan seragam. Karena yang menjadi substansi adalah ide, wawasan dan pemikiran, itulah yang memisahkan mereka lintas partai politik.
Apakah kita menganggap diri kita lebih pintar dari mereka yang hidupnya jauh lebih sejahtera dari dari kehidupan kita? Anda salah menilai, ingatlah bangsa kita dijajah secara politik dengan senjata hampir empat ratus tahun lamanya. Maka segala seluk beluk hidup sebagai masyarakat terjajah kita harus segera mengubahnya, jika tidak maka kita akan selalu berada dalam lingkaran setan penjajahan meskipun yang menjadi gubernur orang tua kita, abang kita atau anak kita sekalipun.
Rental Mobil Medan